Rabu, 01 Mei 2013

Gali Sumber Pengganti Energi Fosil yang Makin Habis

Dalam beberapa tahun terakhir ini, sumber energi alternatif mulai populer di seluruh dunia, menggantikan sumber energi fosil yang stoknya perlahan-lahan berkurang. Amerika Serikat  (AS) adalah negara yang paling responsif terhadap memudarnya sumber energi. Menurut hasil penelitian di AS, delapan sumber energi alternatif yang berpotensi untuk menggantikan peran minyak dan gas. Bagaimana potensi sumber alternatif di Indonesia?
Foto: Christian Raphael/Fotokita.net
Kedelapan sumber alternatif itu, menurut hasil penelitian tim ahli AS aalah seperti yang disarikan oleh Arief Sujatmoko dari clentechnica seperti berikut:
  1. Ethanol
    Merupakan bahan bakar yang berbasis alkohol dari fermentasi tanaman, seperti jagung dan gandum. Bahan bakar ini dapat dicampur dengan bensin untuk meningkatkan kadar oktan dan kualitas emisi. Namun, ethanol memiliki dampak negatif terhadap harga pangan dan ketersediannya.
  2. Gas alam
    Gas alam sudah banyak digunakan di berbagai negara yang biasanya untuk bidang properti dan bisnis. Jika digunakan untuk kendaraan, emisi yang dikeluarkan akan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan minyak. Akan tetapi, efek rumah kaca yang dihasilkannya 21 kali lebih buruk.
  3. Listrik
    Listrik dapat digunakan sebagai bahan bakar transportasi, seperti baterai. Tenaga listrik dapat diisi ulang dan disimpan dalam baterai. Bahan bakar ini menghasilkan tenaga tanpa ada pembakaran ataupun polusi. Namun, sebagian dari sumber tenaga ini masih tercipta dari batu bara dan meninggalkan gas karbon.
  4. Hidrogen
    Hidrogen dapat dicampur dengan gas alam dan menciptakan bahan bakar untuk kendaraan. Hidrogen juga digunakan pada kendaraan yang menggunakan listrik sebagai bahan bakarnya. Walaupun begitu, harga untuk penggunaan hidrogen masih relatif mahal.
  5. Propana
    Propana atau yang biasa dikenal dengan LPG merupakan produk dari pengolahan gas alam dan minyak mentah. Sumber tenaga ini sudah banyak digunakan sebagai bahan bakar. Propana menghasilkan emisi lebih sedikit dibandingkan bensin, namun penciptaan metananya lebih buruk 21 kali lipat.
  6. Biodiesel
    Biodiesel merupakan energi yang berasal dari tumbuhan atau lemak binatang. Mesin kendaraan dapat menggunakan biodiesel yang masih murni, maupun biodiesel yang telah dicampur dengan minyak. Biodiesel mengurangi polusi yang ada, akan tetapi terbatasnya produk dan infrastruktur menjadi masalah pada sumber energi ini.
  7. Methanol
    Methanol yang juga dikenal sebagai alkohol kayu dapat menjadi energi alternatif pada kendaraan. Methanol dapat menjadi energi alternatif yang penting di masa depan karena hidrogen yang dihasilkan dapat menjadi energi juga. Namun, sekarang ini produsen kendaraan tidak lagi menggunakan methanol sebagai bahan bakar.
  8. P-Series
    P-series merupakan gabungan dari ethanol, gas alam, dan metyhltetrahydrofuran (MeTHF). P-series sangat efektif dan efisien karena oktan yang terkandung cukup tinggi. Penggunaannya pun sangat mudah jika ingin dicampurkan tanpa ada proses dengan teknologi lain. Akan tetapi, hingga sekarang belum ada produsen kendaraan yang menciptakan kendaraan dengan bahan bakar fleksibel.
Pilihan masa depan Indonesia
Sementara itu, pengamat ekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, Uka Wikarya, yang menulis Energi Alternatif, Pilihan Masa Depan Indonesia (Investor Daily, 3/8/2012), menyatakan bahwa mengubah tingkat ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) bukan hal mudah, tapi itu harus dilakukan. Sejauh ini energi bauran masih jauh dari memuaskan. BBM masih menjadi bahan bakar utama di negeri ini, mencapai 50% lebih dari total pasokan energi nasional. Sementara itu, penggunaan sumber energi lainnya masih sangat kecil.
Gas alam, misalnya, hanya memasok sekitar 28% dari total bauran energi, sementara batubara berada di angka 15%. Sumber-sumber energi alternatif non-fosil yang terbarukan malah hanya berperan di bawah 5%. Pemerintah telah meluncurkan visi energi jangka panjang hingga tahun 2025. Pada tahun itu, pemerintah berharap terjadi perubahan bauran energi di Indonesia, dengan tidak lagi menjadikan BBM sebagai bahan bakar utama. Pada tahun itu, peran BBM tinggal 20%, gas alam dan batubara 30%, sementara energi terbarukan, yaitu panas bumi dan biofuel berkontribusi sekitar 17%.
Biofuel dan gas alam
Cukup alasan untuk menyampaikan visi tersebut. Indonesia memiliki potensi energi alternatif yang begitu besar. Dari sekian banyak potensi yang kita miliki, biofuel dan panas bumi merupakan dua sumber energi terbarukan yang paling potensial untuk dikembangkan. Beberapa alasan mengapa biofuel layak diperhitungkan.
Pertama, biofuel adalah bahan bakar ramah lingkungan. Kedua, ketersediaannya cukup berlimpah. Ketiga, pengusahaan biofuel bersifat padat karya, sehingga industri ini dapat membantu menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi para petani di seluruh Tanah Air. Alasan lainnya adalah harga biofuel lebih stabil dan dapat lebih murah. Namun demikian, pengusahaan biofuel di dalam negeri, saat ini, dianggap belum ekonomis.  Oleh karena itu, para investor belum termotivasi mengembangkan biofuel, karena harga keekonomiannya lebih tinggi daripada harga BBM bersubsidi.

Selain biofuel, energi gas alam sangat prospektif. Gas alam memiliki beberapa keuntungan, di antaranya ramah lingkungan, harga lebih murah, dan cadangan gas bumi yang cukup banyak. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan Indonesia memiliki cadangan gas alam sebesar 150 TFC, yang akan bertahan setidaknya selama 60 tahun lagi.
Hanya saja penggunaan bahan bakar gas (BBG) bagi kendaraan bermotor saat ini kurang layak secara finansial bagi para penggunanya. Memang harga BBG saat ini lebih murah, tapi selisihnya terlampau kecil dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi, sehingga selisih harga belum mampu menutupi biaya-biaya untuk pengadaan dan pemasangan converter kit, instalasi, dan tabung gas BBG. Jadi, pemberian subsidi BBM yang berlebihan pun ternyata tidak mendorong adanya migrasi penggunaan BBM ke BBG, atau tidak mendorong ke penggunaan energi alternatif.
Namun, kalau kita menengok ke belakang, hal yang sama juga terjadi saat pemerintah dan Pertamina mengonversi minyak tanah ke gas elpiji. Pada awalnya ide tersebut ditertawakan oleh berbagai pihak, apalagi menyusul maraknya tabung elpiji yang meledak. Pelan namun pasti, proses konversi minyak tanah semakin menunjukkan sinyal positif. Kita bisa melihat kalau konversi minyak tanah ini menjadi sebuah kesuksesan yang tidak terbantahkan.
Data yang dikeluarkan oleh Pertamina menyebutkan, lebih dari 50 juta tabung elpiji telah disalurkan ke seluruh masyarakat Indonesia di berbagai wilayah, mulai dari Sabang sampai Merauke. Tingkat konsumsi elpiji juga melonjak sangat berarti, dari hanya 1,1 juta ton pada 2007 menjadi lebih dari 4,7 juta ton pada 2011. Keberhasilan pemerintah dan Pertamina dalam konversi minyak tanah ke elpiji ini mendapat pengakuan dari negara-negara lain. Pada forum liquefied petroleum gas (LPG) internasional yang diadakan di Doha, Qatar, Oktober tahun lalu, negaranegara berkembang lainnya sangat berhasrat menjadikan program konversi minyak tanah di Indonesia sebagai model percontohan.
Iklim bisnis yang sehat
Kita sebenarnya tidak perlu khawatir terhadap ancaman krisis energi asalkan kita setuju untuk mulai bergerak dari sekarang. Selain gas bumi, Indonesia kaya akan potensi energi lainnya, seperti energi panas bumi. Berdasarkan data pemerintah, Indonesia memiliki potensi energi panas bumi terbesar di dunia. Panas bumi merupakan bahan bakar yang potensial untuk digunakan di pusat pembangkit listrik. Dibandingkan dengan BBM, panas bumi dapat menghasilkan listrik dengan biaya yang bisa lebih murah.
Pertamina sudah membangun beberapa pusat pengembangan panas bumi, salah satunya yang terletak di daerah Kamojang, Garut. Saat ini, Pertamina mampu menghasilkan 1.194 MW dan akan melonjak menjadi 1.889 MW pada 2014, menjadikan Indonesia sebagai penghasil energi panas bumi terbesar di dunia. Permasalahan kesepakatan harga jual listrik dari pembangkit listrik panas bumi dengan pemerintah yang sering muncul saat ini seyogianya dapat diselesaikan dengan sebaikbaiknya demi pengembangan energi alternatif.
Memang ada beberapa masalah yang selama ini menghambat laju perkembangan energi alternative di Tanah Air, antara lain ketersediaan infrastruktur, pendanaan, pola pikir masyarakat dan koordinasi antara lembaga terkait. Menyelesaikan keempat masalah tersebut tidaklah mudah. Ini membutuhkan komitmen dan kerja keras dari pemerintah dan segenap masyarakat luas.
Langkah pertama yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah menciptakan iklim bisnis yang sehat dan menjanjikan untuk para calon investor. Untuk mempercepat pengembangan energi alternatif, mau tidak mau kita harus bekerja sama dengan negara lain karena mereka memiliki dana serta teknologi yang dibutuhkan.
Selama ini para investor dari negara lain bukannya tidak mau berinvestasi di Indonesia, sudah begitu banyak investor asing yang menyatakan ketertarikan mereka untuk menanamkan modal di sini. Masalah-masalah klasik yang selama ini menghambat perkembangan dunia usaha belum juga dapat dibenahi. Melihat adanya bahaya apabila kita terlalu bergantung dengan BBM, tampaknya kita semua harus bersatu mewujudkan energi alternatif untuk masa depan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar